Inspiratif! Kisah Masa Kecil Michael Jordan Saat Menjual Baju Bekas

2 Oct 2017

Michael Jordan, pria berkulit hitam yang lahir pada tahun 1963, di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara. Sementara upah ayahnya yang hanya sedikit, tidak cukup untuk menafkahi keluarga.

Sejak kecil, MJ melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi. Bahkan, ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depannya.

Ketika berusia tiga belas tahun, ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya. “Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?” MJ menjawab, “Mungkin 1 dollar?”

Ayahnya kembali berkata, “Bisakah dijual seharga 2 dollar? Jika engkau berhasil menjualnya, berarti telah membantu ayah dan ibumu.” MJ menganggukkan kepalanya, “Saya akan mencobanya, tapi belum tentu bisa berhasil.”

Dengan hati-hati dicucinya pakaian itu hingga bersih. Karena tidak ada setrika untuk melicinkan pakaian, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering.

Keesokan harinya, dibawanya pakaian itu ke stasiun bawah tanah yang ramai, ditawarkannya hingga lebih dari enam jam. Akhirnya MJ berhasil menjual pakaian itu seharga dua dollar dan pulang sambil berlari menuju rumahnya.

Sejak aktivitas itu, MJ mencari baju bekas setiap harinya. Dirapikan kembali dan dijual di pusat-pusat keramaian.

Lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, “Coba engkau pikirkan bagaimana caranya untuk menjual pakaian ini hingga seharga 20 dolar?” 

“Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling tinggi nilainya hanya 2 dollar.” bantah MJ sambil tak percaya.

Ayahnya kembali memberikan inspirasi, “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? Pasti ada jalan.”

Akhirnya, MJ mendapatkan ide, dengan cara meminta bantuan sepupunya yang belajar melukis untuk menggambar Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. MJ berusaha menjualnya di sebuah sekolah anak orang kaya.

Tak lama kemudian, seorang pengurus rumah tangga yang menjemput anak majikannya. Membeli baju itu dan diberikan kepada anak majikannya sebagai hadiah.

Anak kecil yang berusia sepuluh tahun itu, sangat menyukai baju tersebut. Ia memberikan tambahan tip senilai 5 dolar kepada MJ.

Dua puluh lima dollar adalah jumlah yang besar bagi MJ, sebab setara dengan uang gaji ayahnya selama satu bulan.

Sesampai di rumah, ayahnya kembali memberikan selembar baju bekas kepadanya. “Apakah engkau mampu menjualnya kembali dengan harga 200 dolar?” dengan mata berbinar-binar.

MJ menerima baju bekas itu tanpa ada keraguan lagi. Dua bulan kemudian, aktris film populer “Charlie Angels“, Farah Fawcett, datang ke New York untuk melakukan promosi.

Usai konferensi pers, MJ menerobos pihak keamanan untuk mencapai sisi FF dan meminta tanda tangannya di baju bekas itu.

FF yang sedang melihat seorang anak polos meminta tanda tangannya, dengan senang hati ia membubuhkan tanda tangannya pada baju bekas tersebut.

MJ pun berteriak dengan sangat gembira, “Ini adalah sehelai baju kaus yang telah ditandatangani oleh FF, harga jualnya 200 dollar!”

MJ melelang baju bekas itu, dan beruntung ada seorang pengusaha membelinya dengan harga 1.200 dollar.

Sesampai di rumah, ayah MJ meneteskan air mata keharuan dan berkata “Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya. Anakku! Engkau sungguh hebat!”

Malam itu, MJ tidur bersama ayahnya dan bertanya ”Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian yang sudah kau lakukan, apakah yang berhasil engkau pahami?”

MJ menjawab dengan rasa haru, “Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya.”

Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala,

“Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai baju bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya. Apalagi kita sebagai manusia yang hidup? Mungkin kita berkulit lebih gelap dan lebih miskin, tapi apa bedanya? Tergantung bagaimana kita mendayagunakan potensi yang ada dalam diri kita masing-masing.”

MJ pun mendapat pencerahan bak matahari terbit dalam kepalanya. Dimana sehelai baju bekas, bisa ditingkatkan harkatnya, lalu apakah saya punya alasan untuk meremehkan diri sendiri? (masa depan)

Sejak saat itu, dalam hal apapun, MJ merasa bahwa masa depannya indah dan penuh harapan. Ia mengasah potensinya hingga akhirnya dia menjadi salah seorang pemain basket terhebat di dunia ini dan menjadi salah seorang atlet terkaya.

Cerita yang disadur dari situs Quora ini, semoga bisa menjadi inspirasi bagi anda yang membacanya. 


TAGS michael jordan


-